Dalambudidaya ikan, kita bisa melakukannya dalam beberapa media, salah satunya adalah media keramba jaring apung. Budidaya ikan keramba jaring apung bisa di lakukan baik di sungai yang dalam, danau, di atas kolam terpal, hingga laut. Budidaya ikan keramba jaring apung merupakan salah satu cara budidaya pembesaran ikan nila yang efisien dan efektif, model sistem budidaya ini telah terbukti lebih efisien, baik efisien secara teknis ataupun ekonomis. Penelitianini bertujuan untuk menganalisis dampak dari budidaya ikan keramba jaring apung terhadap produktivitas primer serta kualitas perairan di Waduk Darma Kabupaten Kuningan ditinjau dari parameter fisik- kimiawi yang mempengaruhi produktivitas primer.Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli-Agustus 2017 sebanyak empat ulangan pada empat lokasi penelitian di perairan. untukmemperhatikan posisi keramba agar tetap berada 20 cm di bawah permukaan air (tidak mengapung ke bagian atas) pada badan keramba perlu di tambahkan pemberat seperi batu, besi atau bahan lain yang mempunyai berat yang cukup. kalau arus perairan tersebut agak deras (misalnya di sungai) maka pada setiap sudut keramba di lengkapi dengan jangkar. Budidayaikan keramba jaring apung bisa di lakukan baik di sungai yang dalam, danau, di atas kolam terpal, hingga laut. Budidaya ikan keramba jaring apung merupakan salah satu cara budidaya pembesaran ikan nila yang efisien dan efektif, model sistem budidaya ini telah terbukti lebih efisien, baik efisien secara teknis ataupun ekonomis. Sebabperubahan warna air sungai membuat banyak ikan-ikan di keramba mati. Hal inilah yang sedang dialami pria 46 tahun yang disapa Kusnuri selaku pemilik keramba di Kecamatan Loa Kulu ketika di datangi Rabu (9/6/2021). Pemilik 60 keramba ini menuturkan, kondisi air sungai memerah memang sudah sekitar seminggu lalu, pada Planktonjuga menjadi makanan bagi ikan-ikan kecil yang terdapat pada budidaya Keramba Jaring Apung (KJA) yang ada Di Danau Toba, salah satu lokasi yang menjadi KJA berada di Parapat Kabupaten Simalungun (Mujiyanto dkk, 2011). Yang menjadi permasalahan pada pengabdian ini adalah masyarakat kurang paham mengenai . Jakarta merupakan daerah dengan wilayah yang dilintasi 13 sungai. Namun demikian, pada sungai-sungai tersebut kerap dijumpai sampah. Salah satu penghasil sampah di sungai diduga berasal dari limbah domestik masyarakat yang tinggal di bantaran sungai. Permasalahan utama yang diangkat adalah bagaimana masyarakat bantaran sungai peduli dengan tidak membuang sampah ke sungai. Salah satu tema penting yang dapat dilakukan sebagai konsep pemberdayaan masyarakat bantaran sungai adalah bersahabat dengan sungai. Program ini tidak bertujuan untuk mencegah banjir yang datang ke Jakarta tetapi konsep ini dimunculkan sebagai jawaban untuk melawan kebiasaan masyarakat bantaran sungai yang sudah terlanjur menganggapnya sebagai lahan milik pribadi sehingga dibolehkan membuang sampah di sungai. Memahami karakteristik masyarakat dan individu dengan mempertimbangkan unsur budaya dan norma setempat menjadi penting, sehingga hambatan program berupa rendahnya saling percaya dan minimnya inovasi dan kreativitas bisa diatasi. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Risalah Kebijakan Pertanian dan Lingkungan Vol. 9 No. 1 April 2022 52-60 ISSN 2355-6226 E-ISSN 2477-0299 52 KONSEP PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BANTARAN SUNGAI DENGAN KEGIATAN BUDIDAYA KERAMBA IKAN ARUS DERAS Kasus Sungai Pesanggrahan di DKI Jakarta Rizky Muhartono¹,* dan Nurlaili2 ¹ Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan Perikanan. Badan Riset Sumberdaya Manusia-Kementerian Kelautan Perikanan ² Sekolah Pascasarjana Program Doktor Program Studi Sosiologi Pedesaan, Institut Pertanian Bogor * Email rizky_san RINGKASAN Jakarta merupakan daerah dengan wilayah yang dilintasi 13 sungai. Namun demikian, pada sungai-sungai tersebut kerap dijumpai sampah. Salah satu penghasil sampah di sungai diduga berasal dari limbah domestik masyarakat yang tinggal di bantaran sungai. Permasalahan utama yang diangkat adalah bagaimana masyarakat bantaran sungai peduli dengan tidak membuang sampah ke sungai. Salah satu tema penting yang dapat dilakukan sebagai konsep pemberdayaan masyarakat bantaran sungai adalah bersahabat dengan sungai. Program ini tidak bertujuan untuk mencegah banjir yang datang ke Jakarta tetapi konsep ini dimunculkan sebagai jawaban untuk melawan kebiasaan masyarakat bantaran sungai yang sudah terlanjur menganggapnya sebagai lahan milik pribadi sehingga dibolehkan membuang sampah di sungai. Memahami karakteristik masyarakat dan individu dengan mempertimbangkan unsur budaya dan norma setempat menjadi penting, sehingga hambatan program berupa rendahnya saling percaya dan minimnya inovasi dan kreativitas bisa diatasi. Kata kunci masyarakat, pemberdayaan, sampah, sungai PERNYATAN KUNCI • Permasalahan sampah di Sungai Jakarta masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah • Keberadaan sampah masih kerap dijumpai di tepian atau pada aliran sungai • Sebagian masyarakat bantaran kali belum mengganggap sungai sebagai properti yang harus dijaga kelangsungannya. Sebagian masih membuang sampah ke sungai • Menjaga sungai harus melibatkan banyak pihak dan tidak hanya berbasis instruksi dari pihak yang berwenang • Masyarakat bantaran kali memiliki potensi dilibatkan dalam kegiatan pemberdayaan sungai REKOMENDASI KEBIJAKAN • Pemerintah DKI perlu membuat terobosan kebijakan pemberdayaan masyarakat bantaran sungai dengan konsep bersahabat dengan sungai. Rumusan Kajian Strategis Bidang Pertanian dan Lingkungan ISSN 2355 – 6226 E-ISSN 2477 – 0299 53 Konsep ini dimunculkan sebagai jawaban untuk melawan kebiasaan masyarakat bantaran sungai yang sudah terlanjur menganggapnya sebagai lahan milik pribadi membuang sampah di sungai. • Kebijakan ini perlu dilakukan dengan pendekatan transdisiplin ilmu pengetahuan dengan melibatkan berbagai instansi terkait yang memiliki kewenangan dan pengetahuan konsep dan praktek tentang masyarakat lokal, sungai dan komoditas budidaya. I. PENDAHULUAN Jakarta merupakan salah satu propinsi yang banyak dikelilingi oleh sungai/kali. Setidaknya terdapat 13 sungai yang melintasi dan membelah Jakarta. Sungai-sungai tersebut di antaranya adalah Sungai Ciliwung, Sungai Krukut, Sungai Pesanggrahan. Dahulu kala, sungai/kali difungsikan sebagai salah satu media transportasi yang dilakukan oleh sebagian warga Jakarta terutama dilakukan oleh para petani untuk mengirimkan hasil panennya untuk dipasarkan di Jakarta. Saat ini, fungsi sungai/kali di Jakarta sudah jauh berubah, tidak difungsikan sebagai sarana transportasi tetapi hanya difungsikan sebagai tempat mengalirnya air dan pembuangan limbah domestik rumah tangga. Pada saat musim kemarau sungai dianggap sahabat oleh warga Jakarta karena terlihat sangat jinak dengan air yang mengalir tenang, tetapi kondisi ini berubah dengan cepat pada saat musim hujan, dimana sebagian besar warga Jakarta menjadikan sungai sebagai musuh bersama karena kondisinya yang tidak dapat menampung air sehingga menyebabkan banjir. Bahkan, banjir tidak hanya melanda daerah yang dialiri sungai melainkan mampu menjangkau wilayah yang dahulunya tidak pernah mengenal kata ”banjir”. Jika dilihat lebih mendalam permasalahan banjir di Jakarta bukan hanya disebabkan tidak berfungsinya sungai-sungai. Permasalahan banjir sangat kompleks, salah satu faktornya adalah disebabkan oleh perilaku negatif manusia. Wilayah puncak dahulu memiliki berfungsi utama sebagai daerah resapan air, namun kondisi ini disulap menjadi vila-vila mewah yang dibangun tanpa mengindahkan fungsi lahan. Salah satu penyebab adalah lemahnya pengawasan dan pencegahan yang dilakukan aparat terkait. Banjir juga dapat diakibatkan sebagai akumulasi tindakan masyarakat yang tidak bertanggung jawab dengan cara membuang sampah ke sungai/kali sehingga menyebabkan pendangkalan arus Arifin et al, 2014. Sebagian besar masyarakat yang tinggal di bantaran kali menggunakan sungai/kali sebagai tempat sampah yang panjang dan mengalir sehingga sungai/kali memiliki beban yang berat yaitu sebagai Risalah Kebijakan Pertanian dan Lingkungan Vol. 9 No. 1 April 2022 54 tempat sampah. Sebagai contoh disepanjang Sungai Ciliwung atau Sungai Pesanggrahan, Warga memang mencari tempat yang praktis untuk membuang sampah. Tempat pinggir kali menjadi tujuan pembuangan sampah lantaran berada dekat pemukiman mereka Selain permasalahan sampah, permasalahan lain yang ditemui di daerah aliran sungai adalah penyempitan badan sungai dan banyaknya bangunan liar yang menempati lahan-lahan yang dilarang untuk ditempati yang menyebabkan kondisi sungai menjadi sempit. Sebagai contoh, Sungai Pesanggrahan yang pada awalnya seluas delapan meter kini menciut menjadi dua meter saja dan volume sampah yang dihasilkan berkisar 15 truk sampah per hari II. SITUASI TERKINI Pemerintah DKI sebenarnya sudah memiliki komitmen preventif untuk menanggulangi permasalahan yang diderita oleh sungai penumpukan sampah yang menyebabkan pendangkalan pada sungai diantaranya adalah dengan melakukan pengerukan sungai, namun dikarenakan rendahnya kesadaran masyarakat dan masih melakukan kegiatan pembuangan sampah di sungai menjadikan langkah yang dilakukan oleh pemerintah daerah menjadi tidak efektif Permasalahan utama yang diangkat adalah bagaimana masyarakat bantaran sungai peduli dengan tidak membuang sampah ke sungai. Salah satu tema penting yang dapat dilakukan sebagai konsep pemberdayaan masyarakat bantaran sungai adalah bersahabat dengan sungai. Program ini tidak bertujuan untuk mencegah banjir yang datang ke Jakarta tetapi konsep ini dimunculkan sebagai jawaban untuk melawan kebiasaan masyarakat bantaran sungai yang sudah terlanjur menganggapnya sebagai lahan milik pribadi sehingga dibolehkan membuang sampah di sungai. Memahami karakteristik masyarakat dan individu dengan mempertimbangkan unsur budaya dan norma setempat menjadi penting, sehingga hambatan program berupa rendahnya saling percaya dan minimnya inovasi dan kreativitas bisa diatasi Noviandi et al, 2017; Andreas dan Savitri, 2016; Mardikanto, 1993; Bustang, 2008; . Setelah mengikuti program ini diharapkan masyarakat akan memiliki paradigma yang berbeda dalam memandang sungai terjadi perubahan paradigma sehingga tekanan ekologis yang diderita sungai akan sedikit berkurang karena masyarakat semakin peduli. Sungai akan dihargai sebagai bagian dari hidup, dimana masyarakat tersebut akan mendapatkan keuntungan secara langsung dan tidak langsung jika mereka mau memelihara kelestarian sungai. Rumusan Kajian Strategis Bidang Pertanian dan Lingkungan ISSN 2355 – 6226 E-ISSN 2477 – 0299 55 III. ANALISIS DAN ALTERNATIF SOLUSI Pengembangan komunitas adalah salah satu metode yang tujuan utamanya untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat melalui pendayagunaan sumber-sumber yang ada pada mereka serta menekankan pada prinsip partisipasi sosial dimana masyarakat terlibat dalam proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi suatu program Suharto, 2009. Pelibatan masyarakat menjadi penting guna mengetahui kondisi, kebutuhan dan sikap dan akan merasa memiliki program dan bukan hanya objek Sumardjo dan Saharuddin, 2004. Program pada kasus ini lebih memfokuskan kepada aspek pemberdayaan komunitas masyarakat pinggir sungai untuk meningkatkan kesadaran secara kelompok dengan mengubah persepsi masyarakat tentang sungai dan meningkatkan potensi ekonomi dari sungai dengan cara membuat keramba arus deras yang digunakan sebagai tempat memelihara ikan. Pembuatan keramba arus deras dapat dijadikan salah satu stimulus untuk menarik perhatian dan kepedulian masyarakat terhadap sungai. Masyarakat akan dikondisikan untuk menjaga keadaan keramba dari kerusakan terutama banyaknya sampah yang tersangkut karena keramba berfungsi sebagai salah satu sumber penghasilan dengan ikan yang dipelihara. Dengan memelihara ikan di keramba, masyarakat diharapkan akan meningkatkan kepedulian dan mengkondisikan masyarakat di lingkungannya untuk tidak membuang sampah ke sungai. Keramba arus deras dipilih untuk memanfaatkan kondisi arus sungai yang tetap mengalir dan memanfaatkan nutrisi makanan ikan yang terbawa arus sehingga ikan yang dipelihara tidak hanya mengandalkan pakan yang diberikan tetapi mendapatkan makanan alami. Keramba dibuat dari jaring berbahan kawat atau jaring berbahan nilon dan menggunakan pelampung yang terbuat dari drum plastik bekas yang dirancang menyesuaikan kondisi sungai Jakarta yang sering dilanda banjir sehingga ketika banjir datang, keramba tetap mengapung menyesuaikan dengan tingginya air. Sungai Pesanggrahan dipilih dengan asumsi pencemaran pada sungai ini tidak separah yang terjadi di sungai-sungai yang lain. Sungai ini melintasi selatan jakarta yang banyak memiliki kawasan perumahan dan cenderung lebih sedikit jumlah pabrik yang dicurigai membuang limbah ke sungai jika dibandingkan wilayah lain, sehingga dari aspek teknis pencemaran air, ikan yang dipelihara di dalam keramba masih bisa tumbuh dan berkembang. Jenis ikan yang dipelihara adalah ikan yang mampu hidup pada kondisi arus mengalir, rawa dan air yang keruh. Ikan lele, Risalah Kebijakan Pertanian dan Lingkungan Vol. 9 No. 1 April 2022 56 nila dan gabus sehingga tingkat kematian mortalitas dapat dikurangi dan masyarakat yang memelihara tidak disibukkan dengan perawatan ikan secara teknis seperti menjaga pH air, menjaga suhu dan penyakit yang menyerang ikan tetapi cukup merawat keberadaan keramba dan membersihkan sampah yang tersangkut. Pada Gambar 1 dapat dilihat bahwa program ini dapat dibagi menjadi lima fase/tahapan, yaitu penentuan lokasi, penyuluhan, pembentukkan kelembagaan, pelaksanaan program, dan evaluasi program. Pada pelaksanaan tiap fase dilakukan kegiatan monitoring dan pendampingan dengan tujuan mengawasi dan memastikan program dilaksanakan sesuai dengan kebijakan dan ketentuan yang telah disepakati bersama. Jika Ditemukan permasalahan dapat dicarikan solusi yang tepat dan cepat. Fase pertama adalah penentuan lokasi. Proses ini didasari dengan pertimbangan bahwa lokasi tersebut harus dilewati kali pesanggrahan sehingga tujuan awal merubah paradigma masyarakat bantaran kali untuk menjaga kelestarian kali dapat dilaksanakan. Pertimbangan dalam penentuan lokasi yaitu merupakan kawasan padat penduduk dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah, karena ada kecenderungan masyarakat pada tingkat ini kurang memperhatikan keberadaan kali membuang sampah ke kali. Pertimbangan lain adalah jika lokasi dilaksanakan pada kompleks perumahan menengah ke atas, maka program menjadi tidak tepat sasaran karena salah satu tujuan program ini adalah memberikan penghasilan tambahan dengan cara memelihara ikan. Fase kedua adalah melakukan penyuluhan/sosialisasi dengan tujuan masyarakat memiliki paradigma yang pro-environment, sehingga akan memaknai kali dengan bijaksana dan bukan sebagai tempat sampah ataupun sumber musibah banjir. Materi-materi penyuluhan yang disampaikan kepada masyarakat diantaranya tentang sampah daur ulang sampah, kepedulian terhadap lingkungan pentingnya kali, budidaya ikan di kali menggunakan keramba jaring pembuatan dan perawatan, dan pemasaran. Kegiatan penyuluhan menanamkan bahwa program yang dilakukan bukanlah kegiaran profit oriented sehingga diharapkan masyarakat tidak sekedar mencari bantuan modal, tetapi berdasarkan kepedulian terhadap lingkungan sehingga pada akhirnya mau melaksanakan kegiatan tanpa harus digerakkan dengan uang. Rumusan Kajian Strategis Bidang Pertanian dan Lingkungan ISSN 2355 – 6226 E-ISSN 2477 – 0299 57 Gambar 1. Skema ProgramSetelah paradigma masyarakat terbentuk dalam memandang peran kali, langkah selanjutnya adalah fase ketiga yaitu pembentukkan kelompok. Kelompok yang dibentuk didasari dengan kesamaan spatial RT/RW dengan tujuan memudahkan koordinasi pada saat pelaksanaannya. Satu kelompok terdiri atas 5-10 orang dengan tujuan kelompok yang dibentuk dapat bekerja dengan efektif dan memudahkan koordinasi, selain itu diharapkan tidak ada anggota yang tidak mempunyai tanggung jawab free rider dan hanya sekedar menjadi anggota pasif. Unsur lain yang tidak boleh dilupakan adalah melibatkan unsur pemuda. Dalam Peduli Lingkungan Pentingnya kali memilih lokasi yang sesuai dengan aspek teknis, menggunakan keramba jarring pembuatan dan perawatan Pelatihan pemberian pakan dan pembuatan KJA 5-10 kelompok - Berbasis spatial rt/rw yang berbatasan dengan sungai - 1 kelompok terdiri dari 5-10 orang - Melibatkan unsur pemuda Pengorganisasian kelompok - Penunjukkan ketua - Pembuatan Jadwal piket untuk membersihkan keramba dari sampah yang tersangkut - Pembuatan Jadwal piket untuk pemberian makanan tambahan - kerjabakti rutin antar kelompok untuk membersihkan sampah secara bersama-sama Program Pengembangan Masyarakat Bantaran Kali dengan - Anggota kelompok berperan aktif dalam pengelolaan KJA - Anggota kelompok menyadari pentingnya peran sungai dan mengkondisikan masyarakat sekitar untuk tidak membuang sampah ke sungai - Anggota kelompok memiliki penghasilan tambahan dari ikan yang dipelihara. Program dihentikan atau dilakukan pengulangan pada fase yang mengalami - Program tidak berjalan - KJA rusak tidak terawat - Anggota kelompok dan masyarakat sekitar masih membuang sampah Program dilanjutkan dan di implementasikan di lokasi lain dengan mengikutsertakan kelompok yang berhasil sebagai pendamping Risalah Kebijakan Pertanian dan Lingkungan Vol. 9 No. 1 April 2022 58 hal ini generasi muda diharapkan menjadi generasi penerus yang dapat menularkan pemahaman pentingnya peran kali. Bagi generasi muda, kelompok KJA berguna sebagai wadah aktualisasi diri yang positif sekaligus sebagai langkah pengurangan peredaran narkoba dikalangan generasi muda. Setelah kelompok terbentuk, kemudian dilakukan pengorganisasian kelompok seperti pemilihan ketua, pembuatan jadwal piket untuk memberikan pakan, jadwal piket untuk membersihkan sampah yang menyangkut maupun kerja bakti rutin antar kelompok. Dalam hal ini, program-program yang akan dilaksanakan oleh kelompok dibuat secara bottom-up berdasarkan kesepakatan dan keinginan masing-masing anggota kelompok yang sudah dimusyawarahkan. Pihak pendamping, berperan sebagai mediasi awal pada pembuatan program dan tidak memiliki kewenangan untuk menentukan program yang akan dilaksanakan pada masing-masing kelompok. diharapkan masing-masing anggota kelompok dapat bertanggung jawab terhadap keputusan yang telah dihasilkan dan mau melaksanakan dengan kesadaran sepenuh hati. Kegiatan lain yang dilakukan adalah membuat pelatihan pembuatan KJA dan mempraktekkannya secara bersama-sama diantara anggota kelompok. Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh pendamping program adalah menginisiasi pembentukkan wadah antar kelompok keramba jaring dengan harapan masing-masing kelompok dapat saling berkomunikasi untuk mengkonsultasikan permasalahan yang ditemui atau melakukan perancangan program yang akan dilakukan bersama. Fase keempat adalah pelaksanaan program. Pada fase ini, berlangsung pada saat bibit ikan dimasukkan kedalam keramba sampai dengan masa panen. Lamanya pelaksanaan pemeliharaan ditentukan oleh jenis ikan yang akan dipelihara. Untuk jenis ikan lele memakan waktu sekitar 3 bulan hingga bisa dipanen, sedangkan untuk ikan nila memakan waktu sekitar 3-4 bulan. Fase terakhir adalah evaluasi seluruh pelaksanaan program dari sejak awal penentuan lokasi hingga pemanenan ikan. Fase ini bertujuan untuk mengevaluasi keberhasilan atas program yang telah dijalankan. Adapun indikator keberhasilan di antaranya adalah anggota kelompok dapat berperan aktif dalam pengelolaan keramba jaring. Keaktifan anggota dapat dilihat dari kesadaran melaksanakan program yang telah disepakati bersama dan anggota kelompok bertambah kemampuannya untuk berorganisasi dan mengeluarkan pendapat. Keberhasilan yang lain adalah anggota kelompok akan semakin Rumusan Kajian Strategis Bidang Pertanian dan Lingkungan ISSN 2355 – 6226 E-ISSN 2477 – 0299 59 menyadari pentingnya peran sungai dan dapat mengkondisikan masyarakat sekitar untuk tidak membuang sampah ke sungai dan akan menegur jika ada anggota masyarakat yang membuang sampah sembarangan ke sungai karena akan berdampak negatif terhadap keberadaan keramba. Jika seluruh anggota kelompok melakukan hal yang sama menegur jika ada warga yang membuang sampah ke sungai maka pada gilirannya akan menjadi sebuah gerakan sosial untuk tidak membuat sampah ke kali. Indikator keberhasilan lain adalah anggota kelompok memiliki penghasilan tambahan dari ikan yang dipelihara sehingga dapat membantu perekonomian keluarga. Jika program yang dilaksanakan menunjukkan keberhasilan maka program tersebut akan dijadikan contoh untuk membuat kegiatan serupa di lokasi yang berbeda dan menjadikan kelompok tersebut sebagai kelompok pendamping untuk menularkan keberhasilan yang telah dilakukan sehingga jika ada masyarakat yang meremehkan pelaksanaan program ini akan berubah dan memiliki paradigma yang sama. Jika evaluasi program yang dilakukan menunjukkan indikator kegagalan, seperti Program tidak berjalan, keramba jaring yang telah dibuat rusak tidak terawat, anggota kelompok dan masyarakat sekitar masih membuang sampah ke sungai dan berdasarkan hasil evaluasi tidak akan berhasil diterapkan maka kegiatan program dapat dihentikan. Namun, jika kegagalan didasarkan karena faktor teknis dan alam seperti ikan yang dipelihara masih terlalu kecil sehingga tingkat mortalitas tinggi atau mati karena ketidak sesuaian kondisi air ataupun keracunan limbah dan masih terlihat potensi perbaikan, maka program akan tetap dilaksanakan dengan berfokus memperbaiki fase yang mengalami kegagalan. Jika kematian ikan yang terjadi karena limbah pabrik, maka kelompok dapat memberikan tekanan kepada pihak terkait untuk lebih mengawasi dan memperhatikan pembuangan limbah yang dilakukan oleh pabrik-pabrik dan memberikan sanksi yang tegas jika ada pabrik yang terbukti membuang limbahnya ke sungai. Dalam hal ini kelompok-kelompok tersebut dapat difungsikan sebagai pemberi informasi jika terjadi pembuangan limbah di sungai dan pihak terkait dapat menindaklanjuti jika ada laporan dari kelompok. REFERENSI Andreas, Savitri, E. 2016. Peranan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir dan Modal Sosial Dalam Meningkatkan Kesejahteraan di Kabupaten Meranti dan Rokan Hilir. Universitas Riau Press. Arifin, Kaswanto, Arifin, 2014. Manajemen Lanskap Riparian Sungai Ciliwung Berbasis Pemberdayaan Masyarakat dalam Mengatasi Banjir di Wilayah Hilir. Risalah Kebijakan Pertanian dan Lingkungan Vol. 9 No. 1 April 2022 60 Seminar Hasil-hasil Penelitian PPM IPB. Bustang. 2008. Potensi Masyarakat dan Kelembagaan Lokal dalam Pemberdayaan Keluarga Miskin Pedesaan di Kabupaten Bone. Disertasi. Program Pasca Sarjana. Departemen Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat. Institu Pertanian Bogor Mardikanto, T. 1993. Penyuluhan Pembangunan Pertanian. Surakarta ID Sebelas Maret University Press. Noviandi, T. U. Z., Kaswanto, R. L., Arifin, H. S. 2017. Riparian Landscape Management in the Midstream of Ciliwung River as Supporting Water Sensitive Cities Program with Priority of Productive Landscape. In IOP Conference Series Earth and Environmental Science 91 1. IOP Publishing. Suharto, E. 2009. Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat. Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial. Penerbit Refika Aditama-Bandung. Sumardjo dan Saharuddin, 2004. Metode-metode Partisipatif dalam Pengembanagn Masyarakat Model SEP -523. Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi. Fakultas Pertanian IPB dan Sekolah Pasca Sarjana IPB. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this Ciliwung River is facing problem of the settlement occupation in its riparian zones. This phenomenon caused ecological damage in riparian, so it can aggravate the disaster of annual flooding in Jakarta. As an effort to control this catastrophe, riparian landscape management of Ciliwung River is needed. Based on its topography, Ciliwung River is divided into three segments, there are the upstream, the midstream, and the downstream. Data shows that riparian in the midstream is the largest area, it covers more than 60% of the total riparian area. This segment is very important to be managed in order to reduce runoff towards the downstream. The method used was comparing many standards to get the ideal riparian width in the midstream, which is 50 m for urban areas and 100 m for outside the urban areas. Next method was analyzing spatially to get riparian landscape characteristic of Ciliwung River. The result showed that of riparian zones in the midstream had occupied by settlement. Analysis of riparian function and utilization had held by using Analytical Hierarchy Process. Priority of riparian function in the midstream of Ciliwung River is production. This can be realized with the plan of community garden or inland fisheries. Riparian landscape management in the midstream aims to support the food consumption diversification, and maximize the function of water catchment and water retention in order to support the program of Water Sensitive BustangBasita Ginting SugihenMargono SlametDjoko SusantoThe aim of the research was intended to formulate the model of poor familiy Empowerement by determining both the level and the influencing factors of social responsibility and level of empowerment. Survey and interview techniques were implemented among 276 selected samples, started Nopember 2006 until April 2007. Data was analyzed by using both correlation and path analysis. The results indicated that a number of respondent had a high social responsibility and medium level of empowerment. The increase of social responsibility and level of empowerment were influenced by implementation of good government of local organization, income, and formal education. This study suggests an alternative model of empowerment in order to social responsibility and level of Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir dan Modal Sosial Dalam Meningkatkan Kesejahteraan di Kabupaten Meranti dan Rokan HilirSavitri AndreasPenyuluhan Pembangunan PertanianT MardikantoMembangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat. Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial. Penerbit Refika Aditama-BandungE SuhartoSuharto, E. 2009. Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat. Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial. Penerbit Refika Aditama-Bandung. Pembudidaya ikan membersihkan ikan mati dari keramba jaring apung KJA di Sungai aliran bendungan Karang Intan, Desa Mali-Mali, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Selasa 6/6/2023. Berdasarkan data Sekretaris desa setempat Fazriannur, sejak tiga hari lalu sebanyak 11 ton lebih ikan dari KJA di wilayah itu mati mendadak dengan total kerugian dari pembudidaya ikan mencapai ratusan juta akibat kondisi air bendungan Karang Intan yang surut karena memasuki musim kemarau. FOTO ANTARA FOTO/Bayu Pratama S Pembudidaya ikan membersihkan ikan mati dari keramba jaring apung KJA di Sungai aliran bendungan Karang Intan, Desa Mali-Mali, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Selasa 6/6/2023. Berdasarkan data Sekretaris desa setempat Fazriannur, sejak tiga hari lalu sebanyak 11 ton lebih ikan dari KJA di wilayah itu mati mendadak dengan total kerugian dari pembudidaya ikan mencapai ratusan juta akibat kondisi air bendungan Karang Intan yang surut karena memasuki musim kemarau. FOTO ANTARA FOTO/Bayu Pratama S inline BANJAR - Pembudi daya ikan membersihkan ikan mati dari keramba jaring apung KJA di Sungai aliran bendungan Karang Intan, Desa Mali-Mali, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Selasa 6/6/2023. Berdasarkan data Sekretaris desa setempat Fazriannur, sejak tiga hari lalu sebanyak 11 ton lebih ikan dari KJA di wilayah itu mati mendadak dengan total kerugian dari pembudi daya ikan mencapai ratusan juta akibat kondisi air Bendungan Karang Intan yang surut karena memasuki musim kemarau. sumber ANTARA FOTO/Bayu Pratama S Ada banyak jenis wadah budidaya yang dapat Anda pilih sesuai dengan kebutuhan dan kondisi. Salah satu jenis wadah budidaya ikan yang sering Anda temui adalah keramba. Wadah budidaya ini sering digunakan di perairan umum, seperti sungai, rawa, danau, atau waduk. Gambar 1. Keramba Keramba bisa digunakan untuk pendederan sampai pembesaran. Bahan yang digunakan untuk membuat keramba di antaranya bambu, kayu, atau besi tahan karat. Keramba biasanya dibuat berukuran 2 m × 1 m × 1 m. Jumlahnya sebanyak 40—50 unit dengan jarak bilah pada keramba sekitar 0,5—1 cm. Hal ini bertujuan mencegah benih yang sedang dibesarkan tidak keluar dari wadah dan mencegah sampah masuk ke keramba. Di sungai atau perairan lainnya, keramba ditambatkan pada patok kayu yang ditancapkan di dasar sungai atau tepian sungai dengan menggunakan tali tambang. Bagian atas keramba diberikan pintu yang dapat dibuka dan ditutup. Pintu ini bermanfaat untuk keperluan operasional budidaya. Sebelum Anda memutuskan untuk menggunakan keramba, Anda perlu memperhitungkan terlebih dahulu kondisi sungai. Pasalnya, wadah ini dapat menghambat arus sungai, jebakan sedimentasi, dan tempat tersangkutnya sampah yang hanyut di sungai. Wadah ini tidak bisa digunakan pada perairan yang sudah tercemar dengan bahan-bahan berbahaya. Perairan tersebut dapat menyebabkan kematian pada ikan. Kematian tersebut tidak bisa dicegah atau diminimalisir. Ada tiga posisi keramba di dalam perairan, yakni mengapung di permukaan air, melayang di dalam perairan, dan menempel di dasar perairan. Wadah budidaya yang mengapung di permukaan air bisa digunakan untuk membudidayakan semua jenis ikan air tawar. Pembudidaya dapat memberikan pakan tambahan melalui pintu atau kisi-kisi keramba. Wadah ini dapat memudahkan pembudidaya untuk mengontrol ikan yang tengah dipelihara. Sementara itu, keramba yang melayang di dalam perairan tidak bisa digunakan untuk semua jenis ikan, hanya ikan yang tidak pernah mengambil napas langsung dari udara yang bisa menggunakannya. Salah satu jenis ikan yang cocok dengan wadah ini adalah ikan nila. Selama masa budidaya, ikan tidak perlu diberikan pakan tambahan. Oleh karena itu, Anda perlu memilih perairan yang subur dan kaya bahan makanan. Namun, wadah ini membuat pembudidaya tidak dapat memantau perkembangan ikan. Terakhir, keramba yang menempel di dasar perairan. Wadah ini hanya bisa digunakan untuk ikan tertentu seperti nila dan betutu. Wadah budidaya hanya diangkat pada waktu panen. Artikel Terkait Menelisik Buah-buahan yang Bagus untuk Penderita Diabetes Melitus Post Views 300 Pembudidayaan ikan dapat dilakukan tidak hanya di kolam, di sawah, atau perairan yang terkendali, tetapi dapat juga dilakukan di perairan umum, seperti di danau, di bendungan, atau di sungai. Dengan suatu paket teknologi tertentu, ternyata perairan umu dapat dijadikan media bubidaya ikan secara intensif. Teknologi tersebut adalah dengan menggunakan kantong jaring terapung, keramba, atau sistem pagar. Di bendungan PLTA Koto Panjang banyak petani ikan membudidayakan ikan dengan menggunakan kantong jaring terapung, Ternyata dengan cara ini produksinya tinggi sehingga memberikan keuntungan yang tinggi pula bagi petani ikan. Boleh dikatakan petani ikan hidup layak karena kantong jaring terapung. Tata Letak Jaring Terapung Jaring terapung apabila telah terpasang di danau atau di dam bendungan, Biasanya dirakit menjadi satu unit. Satu unit rakit jaring terapung terdiri atas empat jaring kolam dan satu gudang atau tempat jaga. Setiap jaring kolam berukuran panjang 7 m. lebar 7 m, dan kedalaman 3 m. A. Bahan yang diperlukan Bahan-bahan yang diperlukan dalam pembuatan jaring terapung untuk satu jaring adalah sebagai berikut. No Nama Bahan Ukuran spesifikasi Jumlah Kegunaan 1 Bambu apus 100 buah tiang penghubung 2 Drum drum oli atau minyak 33 buah pengapung 3 kayu kaso 1 m 400 buah pengapit drum 4 jaring polythyline 380 N/95 inci 4 x 18 kg kantong jaring wadah 5 jangkar semen besar 75 kg 6 buah pemberat unti jaring 6 Jangkar semen kecil 1,5 kg 32 buah pemberat jaring 7 Tambang plastik diameter 4 mm 180 m pengikat jangkar semen besar 8 Tambang plastik diameter 2 mm 360 m pengikat jangkar semen kecil. Tali rib jaring 9 paku 7 cm 10 kg 10 paku 12 cm 10 kg 11 kawat 0,5 mm 20 m pengikat B. Merakit bagian unti Merakit drum drum diapit dengan kaso Merakit kantong jaring jaring menjadi kantong jaring dengan ukuran 7x7x3 m. Merakit jangkar semen besar semen dicetak menjadi jangkar dengan berat 75 kg dan bentuk biasanya bundar atau sesuai dengan cetakan. Jangkar semen kecil semen dicetak menjadi jangkar. Merakit untik jaring titian bambu dipasang di atas drum dan tujuh buah bambu dipaku dengan kaso. C. Merakit unit jaring Titian bambu dipasang di atas drum dan tujuh buah bambu dipaku dengan kaso. Kerangka unti jaring ditarik ke tempat terpilih. Penarikan kerangka biasanya menggunakan kapal. Jangkar semen besar dipasang. Caranya, jangkar diikat dengan tambang berukuran diameter 4 mm, kemudian jangkar diletakkan di dasar perairan agar untik jaring tidak hanyut. Kantong jaring dipasang. Cara memasangnya adalah sebagai berikut. Pada setiap sudut kerangka calon net atau jaring kolam dipasang tiang yang berukuran 0,5 m kemudian kantong jaring direnggangkan dengan cara menyusupkan tambang kedalam lubang mata pada sisi atas jaring. Pada setiap sudut jaring, tambang diikatkan pada tiang. dengan demikian, kantong jaring telah terpasang. Jangkar semen kecil dipasang. gunanya untuk merenggangkan kantong jaring Tempat Unit Jaring Untuk menempatkan unit jaring pada perairan perlu memilih tempat yang baik atau tempat yang memenuhi syarat. Tempat yang dianggap baik untuk unit jaring adalah tempat yang memenuhi persyaratan sebagai berikut. A. Luas Perairan Luas perairan perlu diperhatikan karena menyangkut jarak antar unti jaring. jarak antarunit jaring yang baik adalah 50 m. B. Kedalaman Perairan Kedalaman perairan juga merupakan faktor penentu. Jika perairan terlalu dangkal, dikhawatirkan pada saat musim kemarau air akan surut dan sebagian dangkalan akan menjadi kering. Dengan demikian, jaring akan berada di dasar perairan. Sebaiknya dasar perairan diperhatikan pada saat pasang surut terendahnya air. C. Arus Air Bendungan atau dam air yang kelihatan tenang sebenarnya terdapat arus besar di lapisan air bawah. Arus terbesar terjadi pada musim penghujan. Usahakan pemasangan unit jaring tidak pada posisi arus cepat. D. Jalur Angin Kencang Biasanya pada tempat-tempat tertentu merupakan jalur angin kencang. Hendaknya pemasangan unit jaring juga memperhatikan jalur angin. E. Sinar Matahari Banyak sedikitnya sinar matahari sangat menentukan subur atau tidaknya perairan tersebut. Untuk itu, pemasangan unit jaring juga harus memperhatikan sinar matahari Pemeliharaan A. Pemeliharaan Sistem Tunggal Disebut pemeliharaan sistem tunggal karena iklan yang dipelihara hanya satu jenis pada satu jaring kolam. Pemeliharaan ikan sistem tunggal ini meliputi hal-hal berikut. 1. Pendederan Benih Ikan Mas a. Pendederan I Secara umum pendederan I benih ikan mas dilaksanakan di sawah, tanpa diberi pakan atau makanan tambahan. Akan tetapi, ada beberapa petani ikan yang mencoba mendederkan benih ikan mas ukuran 2-3 minggu di jaring hingga menjadi putihan. Pada periode ini benih ikan sangat peka terhadap perubahan lingkungan dan sangat beresiko tinggi. Pakan tambahan diberikan berpa larutan kuning telur rebus dengan susu. Pakan ini diberikan pada minggu-minggu pertama pendederan. Dari 1 liter benih biasanya akan menghasilkan 9 kg putihan 1 kg = 200-300 ekor, dalam 1 bulan pemeliharaan. b. Pendederan II Ukuran Mata jaring Ukuran mata jaring yang dibutuhkan pada pendederan 2 ini adalah 0,9 atau bermata 3/4 inci. Kebutuhan benih Benih yang dibutuhkan untuk ukuran 1 kg = 200-300 ekor 3-5 cm, sebanyak 50 kg. Benih ini disebar pada satu jaring kolam ukuran 7 x 7 x 3 m sehingga satu unit jaring membutuhkan 200 kg. Pelepasan benih hendaknya dilakukan secara bertahap. Benih yang akan dilepaskan hendaknya disesuaikan dengan keadaan air setempat. Caranya, pak atau bungkus benih dibuka dan dibiarkan di perairan hingga benih telah bisa menyesuaikan diri. Tandanya, benih ikan akan keluar dari pak satu demi satu dan akhirnya akan keluar semua. Penyesuaian diri ini membutuhkan waktu kira-kira 20-30 menit. Usahakan pelepasan benih pada saat keadaan air sejuk, yaitu pada pagi, sore, atau malam hari. Pemberian pakan Benih ikan biasanya belum mengenal pakan buatan sehingga perlu diperkenalkan terlebih dahulu. Cara memperkenalkannya adalah dengan membuat susunan, yaitu memasang kain ukuran 1 x 0,5 m, kemudian dibentangkan pada permukaan di tepi jaring kolam. Susunan ini digunakan sebagai tempat pakan buatan. Pakan yang diberikan berupa pelet khusus untuk benih berdiameter 2 mm. Jumlah pelet yang diberikan setiap hari 3% dari kira-kira berat benih total atau usahakan benih tidak kelaparan. Pelet tersebut diletakkan pada ikan susunan. Karena pelet melarut, otomatis benih-benih akan mendekat dan mulai memakan larutan pelet tersebut. Susuan diberikan hingga 10 hari. Setelah itu, susuan diambil. Biasanya setelah 10 hari benih-benih telah mengenal pakan buatan atau pelet. Tahap berikutnya adalah penaburan pelet. Pelet ditabur pelan-pelan dan usahakan pelet dimakan oleh semua benih ikan. Taburan pelet ini hingga benih sudah tidak mau makan lagi. Tandanya, benih ikan akan tenggelam. Taburkan pelet pada saat ikan sedang lapar sehingga pemberian pelet akan berulang-ulang bertahap. Penjarangan Setelah benih dipelihara selama satu bulan, biasanya dilakukan penyortiran atau pengelompokan. Maksudnya, benih yang sama ukurannya diletakkan pada satu tempat karena kalau tidak, ikan yang besar akan cepat besar dan ikan kecil akan kalah. Pengelompokan dilakukan apabila benih terlihat tidak sama ukurannya. Penjarangan dilakukan apabila benih dalam jaring kolam terlalu padat. Hal ini dilakukan apabila benih-benih ini akan dibereskan sendiri, tetapi lain halnya apabila benih-benih ini akan dijual. Pemanenan Benih dipanen setelah dipelihara selama satu bulan. Ukuran benih saat panen adalah 1 kg = 80 - 100 ekor. Benih ukuran ini layak dibesarkan dalam kantong jaring. 2. Pendederan Benih Ikan Nila Cara kerja keseluruhannya hampir sama dengan pendederan benih ikan mas. Hanya yang perlu diperhatikan adalah pakannya. Pakan benih ikan nila lebih sederhana dibandingkan ikan mas. Pakan yang diberikan berupa pelet yang dicampurkan dengan katul, dengan perbandingan satu hektar pelet dua takar katul. Pelet dilumatkan, kemudian dicampur dengan katul. Campuran tersebut dibasahi dengan air hingga merata, kemudian diletakkan dalam satu susun dan ikan nila akan memakan pakan tersebut. Berikanlah pakan selagi benih ikan nila lapar. Pendederan 1 dimulai dari putihan hingga ukuran 3-5 cm sankal silet. Proses ini membutuhkan waktu 1 - 1,5 bulan. Pendederan 2 dimulai dari ukuran 3-5 cm sangkal silet menjadi benih ukuran 10 cm sangkal korek. Pemeliharann tahap ini jika dimulai dari sangkal silet benih berasal dari sawah atau kolam, perlu dibuatkan susunan. Pemberian pakan bisa dengan cara ditaburkan dengan membuat adonan seperti di atas. Jika benih nila berasal dari hasil pendederan 1, pakan langsung ditaburkan. Benih hasil pendederan 1 dan 2 telah bisa dipanen dan dipasarkan atau dibesarkan di jaring atau kolam. 3. Pembesaran Ikan Mas a. Penebaran Benih Sebelum melaksanakan penebaran ikan, yang pertama kali diperiksa adalah ukuran mata jaring. Ukuran mata jaring harus lebih kecil daripada ukuran lebar ikan. Hal ini dimaksudkan agar ikan tidak lolos dari jaring. Selain itu, Keutuhan jaring harus baik. Jika ukuran ikan yang akan ditebar 1 kg = 80 - 100 ekor, mata jaring digunakan 1 inci 2,5 cm. Padat penebaran 1,25 kuintal benih ikan mas pada keluasan 7 x 7 x 3 m jaring kolam sehingga satu unit jaring membutuhkan benih 4 x 1,25 kuintal = 5 5 kuintal. Penebaran benih sebaiknya dilakukan pada pagi, sore, atau malam hari. Pelepasan benih sebaiknya dilakukan secara bertahap, sama seperti pelepasan pada pendederan, yaitu benih butuh penyesuaian di lingkungannya yang baru. Hal ini penting dilakukan, kalau tidak benih ikan akan banyak yang mati. Ikan bersifat poikilotermal yaitu sanggup menyesuaikan diri dengan suhu di tempat dia berada. Akan tetapi, toleransi ini terbatas. Penelitian mengatakan toleransi ikan terhadap suhu tidak lebih dari 5 derajat celcius. Di atas atau di bawah itu ikan tidak sanggup lagi. b. Pemberian Pakan Karena jaring kolam luasnya terbatas, sudah barang tentu ketersediaan pakan pun terbatas. Oleh karena itu, perlu diberi pakan tambahan berupa pelet yang bergizi tinggi dengan kandungan protein 20 %. Ikan akan cepat tumbuh apabila energi dalam tubuh ikan lebih besar dari pada energi yang digunakan untuk aktivitasnya. Jumlah pelet yang diberikan adalah 3-5 % kali bobot total ikan yang ada pada jaring kolam. Pakan ini diberikan hingga lima kali dalam satu hari. Hal ini sebenarnya tergantung pada keadaan ikan karena apabila suhu air tinggi, ikan akan cepat lapar sehingga nafsu makan meningkat. Oleh karena itu, pemberian pakan pada siang hari lebih banyak daripada pagi dan sore hari. berikanlah pakan selagi ikan lapar dan timbanglah jumlah pakan yang akan diberikan. c. Pengaambilan Sempel Ikan Sempel ikan perlu diambil dua minggu sekali atau tergantung pada tujuannya. Pengambilan sempel ikan ini banyak manfaatnya. Pada kantong jaring terapung pengambilan ikan cukup 30 ekor karena apabila terlalu banyak ikan lainnya bisa stress. Timbanglah berat ikan contoh tersebut. Setelah itu, hitung berat total ikan dalam kantong jaring tersebut dengan cara. Jumlah total ikan dibagi jumlah ikan sempel dikali berat ikan sempel dan hasil berapa kg. itulah berat taksiran kasar. JTI JIS x BIS = ... kg. Jika berat total ikan diketahui, kebutuhan pelet per hari bisa dihitung dan jumlah pelet dan berat ikan saat itu bisa dibandingkan. Lambat atau cepat pertumbuhan ikan bisa dievaluasi. Dengan demikian, kita bisa mengetahui baik atau tidaknya mutu ikan. Selain atau tidaknya cara kita memberi pakan kepada ikan tersebut. d. Pemanenan Setelah ikan dipelihara selama 2,5 - 3 bulan maka ukuran ikan mas akan menjadi 1 kg = 4-6 ekor dan dapat untuk dipanen. Berdasarkan permintaan pasar, ikan mas ukuran ini banyak diminati masyarakat. Pemanenan bisa dilakukan serentak dengan memilih ukuran tertentu, tergantung pada permintaan pasar. Cara memakan ikan dalam jaring kolam dilakukan dengan menggu alat bantu, yaitu bambu. Bambu dimasukkan secara menyilang dibawah jaring, kemudian jaring kolam ditarik perlahan-lahan hingga ruang gerak kan menyempit. Pruduksi yang diharapkan = Jumlah pakan 2 + jumlah benih kg = ... kg. e. Pengangkutan Ikan Ikan dijual dalam keadaan hidup agar dagingnya tetap segar dan enak. Cara mengangkut ikan dalam keadaan hidup adalah ikan dipak dengan menggunakan plastik yang diisi dengan air dan oksigen dengan perbandingan tertentu, kemudian diikat rapat-rapat. Cara mengepak ikan hasil panen, ukuran 1 kg = 4-6 ekor adalah sebagai berikut. Kantong plastik panjang 1,2 m, lebar 0,8 m. air 1/3 bagian oksigen 2/3 bagian ikan 10 kg. Pertama-tama plastik diikat di tengahnya, kemudian ujung yang satu ditarik dengan dibalik ke ujung lain sehingga ikatan tengah menjadi dasarnya. Berikutnya, diisi air bersih sepertiga bagian dan ikan 10 kg, kemudian oksigen dimasukkan dua pertiga bagian lalu ujungnya diikat rapat-rapat. Dalam keadaan ini ikan mas tahan diangkut selama 6-7 jam perjalanan lebih kurang 400 km. Apabila ika mas akan diangkut jarak jauh di atas 700 km, dalam pak tersebut sebaiknya diberi gumpalan es 3 jari agar suhu tetap dipertahankan. 4. Pembesaran Ikan Nila a. Penebaran Benih Benih nila yang ditebar biasanya berukuran 8-10 cm sangkal kotak korek. Jumlah benih yang dibutuhkan 1 - 1,5 kuintal dalam satu jaring kolam berukuran 7 x 7 x 3 m. Sehingga satu unit membutuhkan 4 x 1,5 kuintal = 6 kuintal. Cara pelepasan benih ikan nila hampir sama dengan pelepasan benih-benih ikan yang lain. b. Pemberian Pakan Pakan yang diberikan berupa campuran pelet satu bagian dan katul 2 - 2,5 bagian. Sebelum pakan dicampur, pelet dihancurkan, kemudian pelet dan katul dicampur hingga merata. Berikutnya campuran dibasahi dengan air hingga merata dan adonan siap diberikan kepada ikan nila. Jumlah pakan yang harus disediakan 3 -5 % kali bobot total ikan dengan jumlah pemberian lima kali dalam satu hari. Perlu diingat, pada siang hari ikan nila mempunyai nafsu makan yang tinggi. Untuk itu, perbandingan pakan pada siang hari lebih banyak dibanding pagi dan sore hari. Pakan diberikan selagi ikan sedang lapar. c. Pengambilan sempel ikan Pengambilan sempel ikan bisa dilakukan bisa juga tidak. Sebenarnya salah satu tujuan pengambilan sempel ikan adalah untuk mengetahui bobot total sehingga benyaknya kebutuhan pakan setiap hari diketahui. Lain halnya dengan ikan nila, ikan nila termasuk ikan pemakan plankton sehingga tampa pakan tambahan pun ikan nila bisa hidup dan tumbuh, tetapi karena kepadatannya tinggi, pakan tambahan perlu diberikan. d. Pemanenan Setelah ikan nila dipelihara selama 3 - 3,5 bulan, ikan nila akan berukuran 1 kg = 10-15 ekor. Biasanya hasil yang diperoleh menjadi 8-10 kuintal. Cara memanen ikan sama dilakukan dengan cara memanen ikan mas. Setelah dipanen ikan nila siap dipasarkan. Cara pengangkutan berbeda dengan ikan mas. Ikan nila dipak dengan menggunakan kotak ikan fish box, yang terbuat dari fiber glas. Jika tidak dengan cara begitu, pak bisa bocor karena sirip ikan nila sangat tajam dan keras. B. Pemeliharaan Sistem Lapis 1. Pembesaran Ikan Mas Bersama Ikan Nila Per jaring kolam Pembesaran ikan mas dapat dipelihara bersama ikan nila. sistem pemeliharaan menggunakan kantong jaring berlapis, ada lapis atas dan ada lapis bawah. Lapisan atas digunakan untuk memelihara ikan mas dan lapisan bawah dipelihara ikan nila. Cara penempatan seperti ini dilakukan karena ikan nila bersifat pemakan plankton dan pakan buatan dan mempunyai sifat efisiensi yang tinggi, memakan makanan relatif sedikit dan mampu diubah menjadi daging yang relatif banyak. Jika ikan mas pada lapisan atas diberi pakan pelet, otomatis sisa-sisa pakan akan jatuh ke bawah. Sisa-sisa pakan inilah yang akan dimakan oleh ikan nila pada lapisan bawah. Dengan demikian, diharapkan air bersih dari sisa pakan. Pemasangan kantong jaring lapisan bawah. Kantong jaring lapisan bawah dipasang 0,5 m agak ke bawah dengan kantong jaring lapisan atas. Pada tepi keliling kantong jaring atas ditarik tambang agar lapisan bawah mempunyai rongga/ ruang 0,5 m. Pada saat pemanenan ikan mas, biasanya ikan nila masih agak kecil belum saatnya dipanen sehingga membutuhkan waktu pemeliharaan tambahan. Jika terjadi hal yang demikian, pakan tambahan sesuai dengan sistem tunggal perlu diberikan. Hasil yang dicapai ikan pada sistem ini 5 kuintal. Kita dapat membayangkan keuntungan petani dengan memelihara ikan dengan cara ini. Ikan nila merupakan keuntungan tambahan, di samping keuntungan pemeliharaan ikan mas itu sendiri. 2. Pembesaran Ikan Mas Bersama Ikan Nila per unit Pemeliharaan sistem lapis per unit ini lebih efisien dibanding pemeliharaan sistem lapis per jaring kolam. Dari keempat jaring kolam tersebut hanya diberi satu jaring lapis bawah seluas satu unti. a. Pemasangan Jaring Bawah per Unit Kantong jaring lapis bawah dipasang pada bagian terluar dari unit jaring. Pengapungan serta titian berada dalam kantong jaring tersebut. Jaring digunakan berukuran 0/15 - 3/4 inci. b. Pemeliharaan Pemeliharaan dengan cara ini hampir tidak ada bedanya dengan sistem lapis per jaring kolam. Hanya pada penebaran benih ikan nila per unti adalah 1 ton ukuran 8-10 cm per sangkal korek. Saat panen tiba, biasanya dihasilkan ikan nila sebanyak 7-8 ton. Permasalahan Setiap kegiatan yang dilakukan pasti ada resikonya di samping keuntungannya. Akan tetapi, resiko ini bisa diperkecil atau dihindarkan. Hal semacam ini membutuhkan pengetahuan dan pengalaman khusus. Pemecahan Masalah Pemasangan unit jaring harus memperhatikan dasar prakiraan. Yang paling baik dipasang pada saat puncak musim kemarau sehingga tempat ideal ditemukan. Sebelum melepas benih jaring harus diperiksa. Periksalah jaring sebelum dan pertengahan pemeliharaan. Jika ada lubang kebocoran, segeralah diatasi. Agar ikan tidak takut kepada orang. kantong jaring diangkat atau didangkalkan dan ikan tidak diberi pakan satu hari. Setelah itu, jaring dikembalikan ke tempat semula. Jika cuaca mendung sinar matahari kuran, ikan tidak boleh terlalu banyak diberi pakan dipuaskan. Dengan demikian, ikan akan berada di permukaan perairan. Jika terjadi arus balik kotoran dasar perairan akan terangkat ke atas sehingga racun-racun juga terbawa ke atas sehingga ikan bisa mati. Untuk mengatasi hal ini, jaring diangkat dan didangkalkan agar ikan berada dipermukaan perairan. Sumber Khoironi Anak-anak bermain di atas keramba ikan warga di Sungai Widuri, Bantul, Yogyakarta, Rabu 1/7. Warga memanfaatkan aliran Sungai Widuri untuk budidaya ikan dengan karamba. Ikan Nila dan Tombro menjadi pilihan warga untuk dibudidaya. Sejak pandemi Covid19, minat warga untuk budidaya ikan dengan keramba ikan meningkat. FOTO Wihdan Hidayat / Republika Warga membuat keramba ikan di tepi Sungai Widuri, Bantul, Yogyakarta, Rabu 1/7. Warga memanfaatkan aliran Sungai Widuri untuk budidaya ikan dengan karamba. Ikan Nila dan Tombro menjadi pilihan warga untuk dibudidaya. Sejak pandemi Covid19, minat warga untuk budidaya ikan dengan keramba ikan meningkat. FOTO Wihdan Hidayat / Republika Keramba ikan warga di Sungai Widuri, Bantul, Yogyakarta, Rabu 1/7. Warga memanfaatkan aliran Sungai Widuri untuk budidaya ikan dengan karamba. Ikan Nila dan Tombro menjadi pilihan warga untuk dibudidaya. Sejak pandemi Covid19, minat warga untuk budidaya ikan dengan keramba ikan meningkat. FOTO Wihdan Hidayat / Republika Keramba ikan warga di Sungai Widuri, Bantul, Yogyakarta, Rabu 1/7. Warga memanfaatkan aliran Sungai Widuri untuk budidaya ikan dengan karamba. Ikan Nila dan Tombro menjadi pilihan warga untuk dibudidaya. Sejak pandemi Covid19, minat warga untuk budidaya ikan dengan keramba ikan meningkat. FOTO Wihdan Hidayat / Republika Warga membuat keramba ikan di tepi Sungai Widuri, Bantul, Yogyakarta, Rabu 1/7. Warga memanfaatkan aliran Sungai Widuri untuk budidaya ikan dengan karamba. Ikan Nila dan Tombro menjadi pilihan warga untuk dibudidaya. Sejak pandemi Covid19, minat warga untuk budidaya ikan dengan keramba ikan meningkat. FOTO Wihdan Hidayat / Republika Warga membuat keramba ikan di tepi Sungai Widuri, Bantul, Yogyakarta, Rabu 1/7. Warga memanfaatkan aliran Sungai Widuri untuk budidaya ikan dengan karamba. Ikan Nila dan Tombro menjadi pilihan warga untuk dibudidaya. Sejak pandemi Covid19, minat warga untuk budidaya ikan dengan keramba ikan meningkat. FOTO Wihdan Hidayat / Republika Warga membuat keramba ikan di tepi Sungai Widuri, Bantul, Yogyakarta, Rabu 1/7. Warga memanfaatkan aliran Sungai Widuri untuk budidaya ikan dengan karamba. Ikan Nila dan Tombro menjadi pilihan warga untuk dibudidaya. Sejak pandemi Covid19, minat warga untuk budidaya ikan dengan keramba ikan meningkat. FOTO Wihdan Hidayat / Republika Keramba ikan warga di Sungai Widuri, Bantul, Yogyakarta, Rabu 1/7. Warga memanfaatkan aliran Sungai Widuri untuk budidaya ikan dengan karamba. Ikan Nila dan Tombro menjadi pilihan warga untuk dibudidaya. Sejak pandemi Covid19, minat warga untuk budidaya ikan dengan keramba ikan meningkat. FOTO Wihdan Hidayat / Republika inline BANTUL - Budidaya ikan menggunakan keramba telah lama dikenal oleh petani. Khususnya mereka yang tinggal di dekat aliran sungai. Ikan dalam keramba bisa tumbuh besar memanfaatkan aliran sungai tanpa dipusingkan oleh ketersediaan lahan kolam. Warga Bantul Yogyakarta memanfaatkan aliran Sungai Widuri untuk budidaya ikan dengan karamba. Ikan Nila dan Tombro menjadi pilihan warga untuk dibudidaya. Sejak pandemi Covid19, minat warga untuk budidaya ikan dengan keramba ikan meningkat. sumber Republika Home > Inpicture > Inpicture Ahad 08 Nov 2020 1645 WIB .. Rep Abdan Syakura/ Red Mohamad Amin Madani Warga beraktivitas di atas keramba budi daya ikan di aliran Sungai Cikapundung, Tamansari, Kota Bandung, Ahad 8/11. Sejumlah warga di kawasan bantaran Sungai Cikapundung tersebut berinisiatif membudidayakan ikan mas dan nila menggunakan keramba dari bambu sebagai pemanfaatan aliran sungai untuk menambah penghasilan serta untuk memenuhi kebutuhan konsumsi pribadi. FOTO ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA Warga beraktivitas di atas keramba budi daya ikan di aliran Sungai Cikapundung, Tamansari, Kota Bandung, Ahad 8/11. Sejumlah warga di kawasan bantaran Sungai Cikapundung tersebut berinisiatif membudidayakan ikan mas dan nila menggunakan keramba dari bambu sebagai pemanfaatan aliran sungai untuk menambah penghasilan serta untuk memenuhi kebutuhan konsumsi pribadi. FOTO ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA Warga beraktivitas di atas keramba budi daya ikan di aliran Sungai Cikapundung, Tamansari, Kota Bandung, Ahad 8/11. Sejumlah warga di kawasan bantaran Sungai Cikapundung tersebut berinisiatif membudidayakan ikan mas dan nila menggunakan keramba dari bambu sebagai pemanfaatan aliran sungai untuk menambah penghasilan serta untuk memenuhi kebutuhan konsumsi pribadi. FOTO ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA Warga membersihkan sampah di sekitar keramba budi daya ikan di aliran Sungai Cikapundung, Tamansari, Kota Bandung, Ahad 8/11. Sejumlah warga di kawasan bantaran Sungai Cikapundung tersebut berinisiatif membudidayakan ikan mas dan nila menggunakan keramba dari bambu sebagai pemanfaatan aliran sungai untuk menambah penghasilan serta untuk memenuhi kebutuhan konsumsi pribadi. FOTO ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA Warga beraktivitas di atas keramba budi daya ikan di aliran Sungai Cikapundung, Tamansari, Kota Bandung, Ahad 8/11. Sejumlah warga di kawasan bantaran Sungai Cikapundung tersebut berinisiatif membudidayakan ikan mas dan nila menggunakan keramba dari bambu sebagai pemanfaatan aliran sungai untuk menambah penghasilan serta untuk memenuhi kebutuhan konsumsi pribadi. Foto Abdan Syakura/Republika FOTO ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA Warga beraktivitas di atas keramba budi daya ikan di aliran Sungai Cikapundung, Tamansari, Kota Bandung, Ahad 8/11. Sejumlah warga di kawasan bantaran Sungai Cikapundung tersebut berinisiatif membudidayakan ikan mas dan nila menggunakan keramba dari bambu sebagai pemanfaatan aliran sungai untuk menambah penghasilan serta untuk memenuhi kebutuhan konsumsi pribadi. Foto Abdan Syakura/Republika FOTO ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA Warga beraktivitas di atas keramba budi daya ikan di aliran Sungai Cikapundung, Tamansari, Kota Bandung, Ahad 8/11. Sejumlah warga di kawasan bantaran Sungai Cikapundung tersebut berinisiatif membudidayakan ikan mas dan nila menggunakan keramba dari bambu sebagai pemanfaatan aliran sungai untuk menambah penghasilan serta untuk memenuhi kebutuhan konsumsi pribadi. Foto Abdan Syakura/Republika FOTO ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA Warga beraktivitas di atas keramba budi daya ikan di aliran Sungai Cikapundung, Tamansari, Kota Bandung, Ahad 8/11. Sejumlah warga di kawasan bantaran Sungai Cikapundung tersebut berinisiatif membudidayakan ikan mas dan nila menggunakan keramba dari bambu sebagai pemanfaatan aliran sungai untuk menambah penghasilan serta untuk memenuhi kebutuhan konsumsi pribadi. FOTO ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA inline BANDUNG - Warga beraktivitas di atas keramba budi daya ikan di aliran Sungai Cikapundung, Tamansari, Kota Bandung, Ahad 8/11. Sejumlah warga di kawasan bantaran Sungai Cikapundung tersebut berinisiatif membudidayakan ikan mas dan nila menggunakan keramba dari bambu sebagai pemanfaatan aliran sungai untuk menambah penghasilan serta untuk memenuhi kebutuhan konsumsi pribadi. BACA JUGA Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Klik di Sini Budidaya Ikan dalam Keramba di Sungai Cikapundung Berita Lainnya

budidaya ikan keramba di sungai